Tiket Pesawat Al-Haramain Travel. Mudah, Murah dan Amanah Insya Allah
Tampilkan postingan dengan label Manaqib dan Riwayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manaqib dan Riwayat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

> ABAH GURU SEKUMPUL

ABAH GURU SEKUMPUL



Nama beliau, al-‘Ālim al-‘Allāmah al-‘Ārif billāh as-Syaikh Maulana Muhammad Zaini bin al-‘Ārif billāh Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-‘Ālim al-‘Allāmah al-Khalifah Hasanuddin bin al-‘Ālim al-‘Allāmah al-‘Ārif billāh as-Syaikh Maulana Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari 

Abah Guru Sekumpul dilahirkan pada malam Rabu 27 Muharram 1361 Hijriyah atau bertepatan dengan 11 Februari 1942 di desa Tunggu irang, dari pasangan suami-istri al-‘Ārif billāh Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf dengan Hj. Masliah binti H Mulya, merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adik beliau bernama H Rahmah. Ketika masih kanak-kanak, beliau dipanggil Qusyairi.

> Mimpi Abah Guru Sekumpul pada waktu kecil

Mimpi Abah Guru Sekumpul pada waktu kecil



suatu malam, abah guru mendapatkan mimpi, merasakan seolah-olah berada disebuah padang pasir, sejauh mata memandang hanya sahara yang membentang, dari kejauhan tampak fatamorgana seperti genangan air, meski sebenarnya hanyalah biasan cahaya matahari.


Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah-tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.

> Saat-Saat Kelahiran Abah Guru Sekumpul

Saat-Saat Kelahiran Abah Guru Sekumpul


Bertepatan kedatangan tentara Jepang Tahun 1942 ke Martapura . Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya dapat melahirkan dengan selamat. Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu (Salabiah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai menuju Desa Tunggul Irang Seberang, menuju ke rumah salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah, dimana rumahnya berdampingan dengan rumah Tuan Guru H. Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang. Meskipun Masliah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

> Pertemuan penyanyi legandaris Chrisye dengan Abah Guru Sekumpul

Pertemuan penyanyi legandaris Chrisye dengan Abah Guru Sekumpul


Kelahiran, hidup dan kematian itu Allah yang mengaturnya. Bukankah sebelum manusia lahir ke dunia sudah berjanji kepada Allah, dan mengakui Allah sebagai Tuhan dan yang mengaturnya. Intinya manusia memegang janji itu selama kehidupannya.

Chrismansyah Rahadi atau yang akrab kita kenal dengan sebutan Chrisye. Seorang penyayi legendaris yang karyanya banyak memberikan motivasi cinta. Disukai sebab lirik lagunya yang nyaman didengar dan disanjung banyak orang , pencipta lagu seakan-akan karena merekalah lagu itu diperuntukkan. 

> Min Akhlaki Syeikhuna Abah Guru Sekumpul ketika waktu kecilnya

Min Akhlaki Syeikhuna Abah Guru Sekumpul ketika waktu kecilnya


Menginjak usia 5 Tahun , Abah Guru dicarikan orang tuanya guru mengaji Al-Qur’an yang bernama “ Guru Hasan “

Setiap habis magrib berjamaah , Abah guru berangkat ke rumah Guru Hasan yang berada perbatasan Desa Pasayangan dan Desa Keraton tidak terlalu jauh dengan rumah Abah Guru .

> Perjuang Jerih Payah Abah Guru Sekumpul

Perjuang Jerih Payah Abah Guru Sekumpul


Assalamu 'alaikum warohmatullaahi wa barokaatuh..
para muhibbin rohimakumullah.. kalau kita bicara karomah abah guru,sungguh teramat banyak,masyhur dan didengar dimana -mana tempat, memang beliau orang yang berhak dan pantas untuk mendapatkannya.

semua itu menunjukkan kemuliaan beliau dan anugerah juga bagi kita kaum muslimin, akan tetapi alangkah bagusnya kita juga perlu mengingat akan perjuangan beliau, mujahadah beliau, sejak  masa kecil sampai berpulang kerahmatullah.

> Kejadian Di Masa Kecil Abah Guru Sekumpul

Kejadian Di Masa Kecil Abah Guru Sekumpul



Orang yang dimulaikan Allah SWT dari masa kecilnya sudah dipelihara Allah dari perkara-perkara yang tidak disukai agama . Ini sudah sunatullah setiap orang yang bakal menjadi orang mulia dan membawa manfaat bagi orang banyak perjalanan hidupnya selalu penuh cobaan dan pemeliharaan. Begitu juga yang dialami abah guru ketika masa kecilnya >>> Mari kta simak ,,, 

Kejadian di Bioskop Kayu Tangi 

Kejadian ini bermula ketika pamannya abah guru ( Sebutlah Qusyairi waktu kejadian ini nama beliau belum berganti ) . Paman bermaksud mengajak Qusyairi jalan-jalan ke Pasar Martapura sekaligus menonton film di Bioskop Kayu Tangi, sehingga ia meminta izin kepada Abdul Ghani terlebih dahulu. 

Sebenarnya Abdul Ghani ( Abah Qusyairi ) merasa keberatan puteranya diajak jalan-jalan ke pasar apalagi sampai menonton film di Bioskop, namun tidak enak menolaknya Dengan perasaan berat Abdul Ghani mengabulkan permintaan sepupunya, tapi dengan syarat pulangnya jangan terlalu larut malam. 
Mereka berdua melewati jalan menuju pusat kota Martapura. Sesampai di Jalan Kayu Tangi, keduanya membelokkan langkah ke sebuah tempat yang telah ramai dikerumuni orang yaitu loket penjualan tiket masuk ke bioskop Kayu Tangi . 
Setelah membeli dua tiket itu , pamannya menggandeng Qusyairi menuju ke arah penjaga pintu. Kemudian mereka masuk ke dalam gedung yang gelap. Jauh di muka nampak layar putih disoroti cahaya menimbulkan siluet gambar hidup, tampaknya sebentar lagi tayangan utama akan dimulai. Qusyairi yang sebelumnya tak pernah tahu tentang bioskop hanya bisa terpaku di tempat duduknya. Matanya tak sedikitpun berkedip mengarah pada film yang sedang ditayangkan. Tak berapa lama mendadak semua berubah menjadi gelap-gulita. Suasana mulai gaduh, terdengar suara makian yang sambung menyambung dari kiri kanan bahkan dari seluruh penjuru gedung.
“Maaf para penonton, tayangan tidak bisa dilanjutkan berhubung mesin rusak.” 
Akhirnya pertunjukkan filmnya tidak bisa dilanjutkan dan para penonton keluar dengan bersesak-sesakan sambil menyimpan rasa kecewa dihatinya . 
Ini suatu kejadian masa kecil Qusyairi dijauhkan dari perkara-perkara yg tidak baik menurut agama dan Selang beberapa waktu terdengar kabar bioskop Kayu Tangi itu roboh . 
Sering abah guru berkata “ Ini batis kiriku bengkak gara-gara dulu waktu kecil bisa masuk bioskop kayu tangi di Martapura “ padahal belum sempat menonton filmnya sudah begitu yang dirasakan abah guru kifaratnya … Subhanallah 

Pergi Menonton Layar Tancap 
Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, akan ada pemutaran layar tancap di lapangan Bumi Selamat Martapura pada malam Minggu. Kabar ini disampaikan kepada Qusyairi disertai ajakan untuk pergi melihatnya. Qusyairi senang mendengar ajakan neneknya itu, dan segera minta ijin kepada ayah dan ibunya. 
Ajakan tersebut tidak lain karena Salabiah melihat cucunya tidaklah sebagaimana anak sebaya yang dapat mencari hiburan dengan bermain-main. Sehari-hari hanya digunakan dengan belajar di Madrasah, malamnya membaca Al-Qur’an di tempat Guru Hasan, dan sisanya terkadang dihabiskan untuk mengulangi pelajaran dan membantu ayahnya di sawah. Salabiah ingin sekali mengajak cucunya untuk pergi jalan-jalan, namun kehidupan sedemikian susah hingga uang yang terkumpul hanya cukup untuk dimakan sehari-hari. 
Malam Minggu tiba, mereka berdua akhirnya pergi ke Lapangan Bumi Selamat usai Shalat Isya. Tempat itu telah dipenuhi dengan lautan manusia bercampur dengan para pedagang yang sedang mengais rezeki. Mereka kemudian bermaksud duduk agak jauh dari Layar Tancap. Mereka mendapati tempat tersebut dan duduk melepas lelah sambil menunggu film dimulai. 
Malang tak dapat dikira, seketika sarung yang dikenakan Qusyairi tiba-tiba basah, ia segera mengusap sarung tersebut dan mengendus tangannya yang basah. Rupanya tempat duduk mereka di rerumputan adalah bekas orang kencing. Qusyairi langsung berkata pada neneknya : “Ni, tapih ulun basah, ulun teduduki bekas urang bekamih, kita bulikan ja ni ai!” (Nek, sarung yang saya pakai basah, tempat yang saya duduki bekas orang kencing, kita pulang saja ya nek!) Mereka kemudian memutuskan pulang ke rumah, dan tidak jadi berhibur diri menyaksikan layar tancap. 
Mengingat kejadian-kejadian yang menimpa cucunya tersebut, terbayanglah di benak Salabiah petuah Tuan Guru Zainal Ilmi “Di rumah ada saikung pun, peliharapun, peliharapun.” 
Moga bisa jadi ilmu , hikmah untuk kita ikuti akhlak mulia ini dan kita mendapatkan berkah abah guru karena ada cinta dan mengisahkan perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah bagi kita … aamiin

Sumber : http://rindurasul2.blogspot.com/

> Fitnah Yang Membawa Hikmah

Fitnah Yang Membawa Hikmah


Ketika di Darussalam Abah membicarakan tentang kedudukan niat diterangkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin bahwa hakikat niat itu adalah inbi’ats atau motivator penggerak di dalam hati, jadi apa yang menjadi motivasi kita itu adalah niat kita, kalau motivasi kita keridhaan Allah, berarti niat kita karena Allah

Ada orang tidak suka dgn Abah melaporkan ke kantor Dewan Guru, sehingga dari diskusi dewan guru . Abah Guru dikeluarkan saja dari jajaran staf pengajar Darussalam.

Akibat fitnah itu, Abah Guru tidak mau diam dirumah , karena beliau tidak mau keluarga di rumah ikut mendapat fitnah jua . Beliau berdiam Musholla Darul Aman, dengan perbekalaan seadanya . Beliau fokus beribadah hingga beberapa bulan lamanya. Semua itu tidak membuat beliau berkecil hati dengan anugerah Allah, beliau tetap merasa bersyukur atas apapun yang menimpa dan memang harus dijalani.

Bagi Abah Guru hal ini menimbulkan hikmah tersendiri, karena dengan adanya kejadian ini beliau lebih konsentrasi kepada hapalan al-Qur’an, beliau menjadi akrab dengan ayat-ayat kitab Allah tersebut, tanpa harus selalu membuka lembaran-lembarannya, karena pada akhirnya beliau hapal diluar kepala 30 juz wahyu Allah tersebut hanya dalam waktu tidak lebih dari  7 bulan lamanya.

Waktu-waktu berada di Musholla Darul Aman beliau lewati dengan penuh semangat, sehari-harinya hanyalah berada di Musholla. Ia tidak ingin pulang sebelum selesai Khatam menghafalkan Al-Qur'an. Adapun masalah makan ia dapatkan dari sepiring nasi setiap hari yang diberikan oleh keluarganya. Nasi tersebut kemudian beliau bagi menjadi tiga bagian, satu bagian untuk sarapan pagi, sebagian lagi untuk makan siang, dan sisanya untuk makan malam walaupun nasinya sudah agak keras dan terkadang bersemut.

Menyebarnya kabar sesatnya Abah guru , sebagian ulama tak percaya , bagaimana bisa terjerumus kepada hal yang demikian pada beliau orang ‘alim , apalagi beliau adalah kemenakan al-‘Alimul Fadhil Tuan Guru Semman Mulya, rasanya tidak mungkin tuan guru itu akan mendiamkan kemenakannya, jikalau memang ilmu yang diyakini kemenakannya ternyata berbeda dengan faham ahlu sunnah wal jama’ah.

Suatu hari, saat berada dalam Musholla Darul Aman , Guru Darussalam bertanya masalahnya . Abah Guru mengatakan bahwa jawaban  ada di dalam kitab yang dibawa ulama itu, ternyata kebetulan ulama tersebut membawa kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali.

“Jelaslah sudah permasalahannya, kalau demikian ini semua adalah fitnah” katanya. Namun Guru Zaini tidak ingin memperpanjang permasalahan ini, bagi beliau cukup Allah SWT saja yang menjadi saksi kebenaran beliau.

Guru Zaini sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi mengajar di Darussalam, beliau lebih memilih menyendiri, mendalami ilmu dengan muthola’ah dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Beliau merasakan hikmah dibalik semua kejadian itu sangatlah positif, menjadi lebih dekat dan makrifat dengan Allah SWT. Beliau sering pergi ke makam Syeikh Abdussamad Bugis di Tungkaran, disana beliau banyak beribadah dan memuthala’ah kitab-kitab ilmu agama.

Hikmah kejadian ini melahirkan berkah tersendiri bagi umat muslim di bumi Kalimantan. Dengan keluarnya beliau dari jajaran staf pengajar Pondok Pesantren Darussalam malah membuat beliau menjadi milik semua umat, karena ilmu titipan Allah pada beliau bisa dikaji oleh berbagai kalangan di Majlis Ta’limnya.

Dan akhirnya Abah Guru dapat izin Rasulullah membuka majlis di keraton yang menurut cerita awal muridnya Cuma 7 orang ( salah satu alhmarhum Guru Zaini Mursyid di sekumpul bisa jadi imam di mushalla Ar-raudhah ) . Dan cerita Sofwan, salah seorang santri yang ikut belajar di majelis ta’lim Guru Zaini ketika itu menceritakan, bahwa sekitar penghujung tahun 1966, ia dan teman-temannya yaitu Mahmud dan Fathullah yang menjadi murid Guru Zaini sejak tahun 62-an, mereka disewakan oleh Guru Zaini sebuah rumah untuk tempat tinggal selama mengaji ditempat beliau . Sofwan menceritakan pula bahwa selama berdiam di rumah itu selain mendapatkan bimbingan ilmu dan amal, mereka juga mendapatkan bantuan secara materi dari Guru Zaini yang membelikan kebutuhan hidup mereka sehari-hari; dari beras, lauk maupun kebutuhan lainnya. Malah terkadang Guru Zaini sendiri yang memasakkan makan siang mereka. Sofwan dan teman-temannya pun seusai pulang sekolah di Pesantren Darussalam tinggal makan saja. Di masa itu menurut cerita Sofwan lagi, ia sering mengalami sakit, sehingga Guru Zaini selalu memanggil seorang mantri yang bernama Umar, langganannya, untuk mengobati dirinya.

Menurut cerita sahabatku Ustadz Fauzi di Balikpapan yg bulan2 ini bailing kerumah orang yang menjagakan ketika Abah guru mengafal di Darul Aman itu masih hidup . Beliau asalnya orang martapura asli karena usaha terdiam di balikpapan dan hafal al-qur’an . Inipun beberapa kali asalnya menutupi diri dan akhirnya beliau kasih tahu jua namun beliau tidak mau dikenal orang banyak .

Moga dengan kisah ini kita sabarataan dapat berkah Abah guru … aamiin

Sumber : http://rindurasul2.blogspot.com/

> Gelar Abah Guru Sekumpul waktu kecil

Gelar Abah Guru Sekumpul waktu kecil


suatu malam, abah guru mendapatkan mimpi, merasakan seolah-olah berada disebuah padang pasir, sejauh mata memandang hanya sahara yang membentang, dari kejauhan tampak fatamorgana seperti genangan air, meski sebenarnya hanyalah biasan cahaya matahari.

Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah-tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.

> sehari sebelum wafat nya Guru Semman Mulya

Sehari sebelum wafat nya Guru Semman Mulya


Bismillahirrohmanirrohim..

Kisah Abah Guru.
sehari sebelum wafat nya Guru Semman Mulya, Abah Guru Sekumpul sendirian yang membersihkan kuku-kuku Beliau, dari tangan sampai kaki. abah guru bertanya kepada Guru Semman,
Abah:"Besok pulang kan?"
Guru semman: "InsyaAllah"
Abah:"siapa yg mandikan?"
Guru semman:"kamu"
abah:"siapa yg meimami?"
Guru Semman:"kamu"
Abah:"siapa yg talqin?"
Guru Semman:"kamu"

> Diantara Sifat Ketawadduan Abah Guru Sekumpul

Diantara Sifat Ketawadduan Abah Guru Sekumpul



Diceritakan kembali Oleh Hamid Sekumpul

Diantara sifat ketawadhuan/ rendah hatinya Abah Guru Sekumpul QS,yang ulun dengar langsung dari yang punya riwayat bahwa suatu malam Senin sekitar jam 11 malam, Pa Haji yang rumahnya berdekatan atau sekomplek dengan Abah Guru dalam regol Ar raudah  Sekumpul menelpon Abah Guru.

Senin, 28 April 2014

> Sejarah Sekumpul

Sejarah Sekumpul




Foto Abah Guru Sekumpul pada saat membuka komplek perumahan Sekumpul

Kelurahan Sekumpul merupakan pemekaran dari kelurahan induk, yakni Jawa. Secara geografis, Sekumpul berlokasi di pertigaan Jalan Ahmad Yani Km 38 samping Masjid Syi’aarush Shaalihiin, masuk sekitar 800 meter, lantas belok kanan (jika dari arah Banjarmasin), di sanalah Mushalla Ar Raudhah berdiri megah.
Berbentuk kotak-kotak paduan semen dan keramik kombinasi hitam, putih, hijau dan biru, menjadikan kubah serta menara mushalla ini sebagai model bangunan pertama di Kalsel. Sepintas, menara dan kubah mushalla mirip masjid terbesar di Jawa Timur, Masjid Agung Al Akbar, Surabaya. Di samping mushalla, terdapat kediaman Guru Sekumpul yang diapit dua rumah berarsitektur sejenis yang ditempati ibu, saudara dan keponakan. Belakangan, rumah di samping kiri Guru direnovasi total.

> Al 'Alimmul Al 'Allamah Al Arrif Billah Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil )


Al 'Alimmul Al 'Allamah Al Arrif Billah Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil )



بِســمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Berikut ini adalah Manaqib & Riwayat Hidup Al 'Alimmul Al 'Allamah Al Arrif Billah Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil ) :

Guru Bangil adalah seorang ulama yang alim dan tawadhu’. Keluasan dan ketinggian ilmu beliau diakui, sehingga banyak orang yang belajar dan menuntut ilmu dengan beliau, termasuk pula para kyai. Ketika hidup, beliau menjadi referensi bagi para guru agama dan masyarakat dalam memecahkan berbagai permasalahan keagamaan. Keilmuan dan kiprah keagamaan beliau telah memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan mental spiritual umat, tidak hanya di kota kelahiran beliau Martapura, akan tetapi juga di Kota Bangil tempat Beliau menetap dan meninggal dunia. Secara geneologis, Guru Bangil merupakan generasi ke-8 dari ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan salah seorang guru dari ‘Alimul Fadhil Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul).


Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah (Simpanan Berharga, Masalah Talqin, tahlil dan Tawassul) adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling populer, dicetak, dipublikasikan, dan banyak dijadikan rujukan oleh masyarakat Banjar, terutama di Martapura dan Bangil.

> KH. Falak Bogor

KH. Falak Bogor



بِســمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Mengenal Sosok Aulia Allah KH . Falak Bogor

Beliau adalah Salah Satu Guru Abah Guru Sekumpul Di Bidang Tarekat dan Hakekat , Walaupun sangat singkat waktunya Abah Guru mengaji namun seluruh maqom dalam tarekat dan hakekat bisa dicapai Abah Guru Sekumpul . Sampai anak KH. Falak berkata “Kami yang mengaji 10 Tahun , tidak bisa menyamai yang dicapai hasilnya Abah Guru Sekumpul … Subhanallah !!! Memang ini Karomah